Digital Communications & Digital Campaign

social_media_2

Digital Campaign kalau diterjemahkan secara harfiah kedalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Kampanye Dijital. Kalau Anda cari di Internet “Digital Campaign definition” ternyata terminologi ini termasuk belum didefinisikan dengan jelas dan hanya muncul di situs-situs spesifik. Satu situs yang menguraikan “Digital” dalam konteks komunikasi publik nampaknya juga belum menyinggung pengertian “Digital Campaign” secara definitif. Meskipun situs tersebut dengan jelas memaparkan kampanye politik yang berlangsung di Eropa dewasa ini. Situs yang saya maksud adalah blog Pagoesdigital di WordPress.com . Blog yang dimiliki oleh konsultan New Media itu menyinggung pengertian Digital yang sering digunakan di bidang “Public Relation” dan “Public Affair”.

 

Menurut Fleishman-Hillard’s yang dikutip situs Pagoesdigital, pengertian “digital” erat kaitannya dengan komunikasi dijital atau “Digital Communications (noun)“. Fleishman mendefinisikan Digital Communications sebagai berikut :

 

Digital Communications (n.) Myriad of outbound communications tactics that leverage digital technology to deliver messages: e-mail, video, text messaging, online advertising, paid search, optimized press releases, podcasts, vodcasts, etc.
Mungkin definisi diatas sangat mirip dengan maksud Digital Campaign. Tapi kalau kita perhatikan dengan seksama, maka nampak pengertian “Digital Communications” tersebut masih bersifat umum. Disini pengertian “tactics” & “messages” sangat luas dan belum dibungkus dengan suatu konteks yang khas dari pesan itu sendiri. Misalnya pesan apa yang mau dikomunikasikan dan apa tujuan pesan tersebut? Karena pesan menyangkut niatan manusia, maka barangkali perlu juga lebih definitif menjelaskan pesan yang bagaimana, tujuannya apa, dan kemana akan disampaikan? Apakah semua pesan dijital disebut suatu kampanye? Atau hanya pesan yang secara sistematis di desain untuk tujuan tertentu saja disebut kampanye dijital atau “Digital Campaign”. Berikut beberapa kasus kampanye digital yang pernah terjadi di awal-awal perkembangan digital campaign sekitar akhir dasawarsa pertama tahun 2000, atau sekitar tahun 2008.

 

“Bebaskan Prita” : Diantara Spontanitas, Taktik & Strategi DC

 

Digital Campaign dapat muncul secara spontanitas dan alamiah dan dapat juga sebagai hasil dari suatu desain sistematik. Kampanye spontan seperti kampanye “Bebaskan Prita” yang digagas para pengguna Facebook dan kalangan Blogger merupakan salah satu kampanye spontan yang akhirnya diarahkan supaya mencapai hasil tertentu dengan membangun saling hubungan melalui jejaring sosial  yang luas. Kampanye yang akhirnya mengundang perhatian banyak pihak ini sebenarnya mungkin semula hanya difokuskan pada dukungan publik atas tindakan seseorang yang langsung menyentuh “nilai dan rasa keadilan” publik itu sendiri. Namun, dengan intensitas kampanye yang bagaikan serangan “Blietzkrieg”, getok tular dari wilayah “maya” ini kemudian diliput oleh media dijital yang jangkauannya lebih luas yaitu televisi, radio, dan media non-dijital.

 

Kemudian, karena peristiwanya bersamaan dengan waktu mencari dukungan dari peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, maka penguatan kampanye “Bebaskan Prita” pun semakin nyata karena para calon Capres dan Wakil-nya pun menjadi penyuara hati nurani Prita. Hanya dalam tempo beberapa hari saja, isu-isu populer semisal “Manohara” dan “Ambalat” pun kalah pamor dengan kampanye digital “Bebaskan Prita”.

 

Kampanye dijital “Bebaskan Prita” pun mencapai tujuan awalnya, yang menurut hemat saya adalah untuk “membebaskan Prita” dari kesewenangan lembaga yang sejauh ini masih diselimuti paradigma ketertutupan, bahkan mungkin dalam banyak kasus termasuk lembaga “Untouchable”. Demikian juga dampak kolateral yang terjadi yang sebenarnya bukan tujuan utama muncul ke permukaan dan membuka/atau mengingatkan kembali Pekerjaan Rumah yang tertunda atau masih mengambang seperti peninjauan kembali UU ITE yang berpotensi memunculkan masalah, keputusan lembaga peradilan yang terkena penyakit korupsi, UU Rumah Sakit yang terkatung-katung, UU Keperawatan dan tentu saja kampanye Presiden dan Wakil Presiden yang memang sedang menjadi simpati masa.

 

Kasus Kampanye Dijital “Bebaskan Prita” merupakan salah satu contoh nyata bagaimana “Digital Campaign” mempunyai potensi yang kuat sebagai pemicu “Perubahan”. Tentunya disini kita melihat adanya “faktor spontantas dan nurani keadilan” yang menyentuh langsung kebanyakan pelaku kampanye ataupun simpatisan kampanye tersebut karena surel (surat elektronik atau e-mail) sebagai perangkat yang dipersoalkan antara pihak yang bersengketa langsung merupakan salah satu sarana utama komunikasi publik yang nampak sekarang ini terancam penggunaannya. Disini, selain nurani keadilan yang terluka, ada ancaman lain yaitu sarana publik yang secara diam-diam terancam fungsionalitasnya. Ada keterlibatan emosional disana sebagai manusia kebanyakan yang seringkali membentur tembok.

 

Kampanye yang diperluas dengan saling hubungan menjadi suatu konteks yang tepat dengan nuansa “publik dan keadilan” bagi yang sering tertindas karena itu menjadi penting sehingga tidak selalu “Digital Campaign” akan berhasil kalau tidak menyentuh “hati nurani publik”, atau jika konteksnya menyempit atau bersifat pribadi dan kurang menyinggung kebersamaan.  “Digital Campaign” di era “Social Network” dan “Digital Brotherhood” memang akan berhubungan dengan “Emotional Media”, yaitu media dimana keterlibatan emosional seseorang lebih mampu dicurahkan sebagai bagian dari pembuat perubahan. Tidak penting apakah Anda dikenal dengan nama samaran atau nama sebenarnya, kontribusinya besar atau kecil, yang penting adalah Anda menjadi bagian dari pembuat perubahan itu.

 

Kampanye Kepresidenan

 

Kampanye Barack Obama melalui Blog dan Facebook dengan pesan “Change“, misalnya, merupakan contoh kampanye dijital yang di desain dengan tujuan tertentu. Di Indonesia, kampanye dijital yang lebih diarahkan secara sistematis untuk tujuan tertentu dapat kita lihat pada kampanye-kampanye calon Presiden dan Wakil Presiden NKRI yang memperkenalkan dirinya sebagai sosok yang pantas menjadi Presiden maupun Wakil Presiden. Tentunya disini terlibat pihak-pihak  profesional sebagai konsultan ataupun tenaga ahli. Kampanye  yang didesain dilakukan dengan menggunakan berbagai “jargon khas masing-masing”, dengan berbagai cara dan gaya, serta berbagai media (yang notabene umumnya sudah dijital) yang dijadikan sebagai medium penyampaian pesan-pesan kampanye.

 

Tentu saja pesan-pesan tersebut sudah dibungkus dengan fokus tertentu atau pesan-pesan itu disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi sebagai antisipasi isu-isu yang diluar dugaan akan menguat (misalnya isu Prita, Manohara, atau Ambalat). Tujuannya adalah supaya pesan-pesan yang disampaikan lebih memberikan sentuhan dan sasaran. Terlepas apakah pesan itu hanya sekedar kiat dan taktik komunikasi atau benar-benar suatu cita-cita yang akan diperjuangkan, pesan yang telah dibungkus dan dipoles itu kemudian melayang di depan TV, Radio, Internet maupun media tradisional yang masih bergantung pada teknologi percetakan yang sekarang menuju “dijitalisasi”. (lihat bagaimana hal ini dimungkinkan untuk berubah di http://www.issu.com). Semua itu adalah bagian dari suatu upaya manusia, proses dan teknologi yang digunakannya untuk menyampaikan pesan tertentu yang lebih terfokus, yang kita sebut “kampanye” dimana penekanan pada kata “dijital” menjadi “faktor pemungkin” untuk menghasilkan dampak yang lebih dahsyat ketimbang misalnya sekedar membuat baliho dan pamflet egosentrik-teokratik yang merusak pemandangan di jalanan lalu ditulisi “Satrio Bintitan Utusan Tuhan – Pilihlah Saya”.
Digital Campaign merupakan satu fase saja bagaimana “kita membuat dunia” atau “Human Made World” sebagai panggung yang lebih memberikan harapan hidup lebih baik bagi semua orang. Jadi, dalam banyak hal, kedepan kita memang mau tak mau, sadar dan tak sadar mesti akan melakukan “Digital Campaign” secara lebih signifikan. Jadi, dijitalisasi bukan sebagai sekedar munculnya media curhat semata atau bukan sebagai media alternatif, tapi media yang telah mengalami fase konvensionalisasi setelah dipandang sebagai media tidak konvensional.

 

Penulis: Atmonadi , Praktisi Internet dan Media Sosial