Industri Logam Dasar, Barang Logam, Mesin, dan Elektronik

Perkembangan realisasi penanaman modal subsektor lndustri Logam Dasar, Barang Logam, Mesin, dan Elektronik berfluktuatif dan memiliki tren meningkat, baik itu Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). Pada tahun 2000 realisasi penanaman modal di subsektor ini mencapai Rp 11,59 triliun. Nilai ini mengalami fluktuasi hingga tahun 2013 naik menjadi Rp 38,98 triliun atau rata-rata naik sebesar 18,2 persen per tahun. Perkembangan realisasi PMDN subsektor industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik mengalami tren yang meningkat sejak 2011 sampai 2013. Adapun sebelumnya mengalami tren yang menurun sejak tahun 2007 sampai 2010. Tren yang meningkat pada tiga tahun terakhir ini, baik itu realisasi PMDN maupun PMA lebih didorong oleh proyeksi pertumbuhan konsumsi baja, barang mesin dan elektronik. Pertumbuhan konsumsi baja domestik yang lebih pada pangsa pasar industri otomotif, infrastruktur, dan konstruksi mengalami peningkatan yang cukup pesat. Disamping itu pula meningkatnya permintaan masyarakat terhadap barang mesin dan elektronik ini lebih didorong oleh adanya peningkatan daya beli masyarakat akibat meningkatnya pendapatan, terutama kelas menengah. Saat ini pendapatan per kapita Indonesia adalah Rp 36,5 juta per tahun dan selalu mengalami peningkatan khususnya tiga tahun belakangan ini. Selain itu, meningkatnya kalangan menengah di Indonesia juga memberikan dampak bagi tingkat konsumsi barang mesin dan elektronik yang makin tinggi. Rata-rata presentase angka capaian realisasi terhadap rencana penanaman modal subsektor industri logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik tahun 2000 – 2013 yakni sekitar 33,7 persen, untuk PMDN angka capaian realisasinya yakni 28,2 persen dan PMA lebih baik sekitar 35,6 persen. Sementara itu, rata-rata realisasi penanaman modal di subsektor ini tahun 2010 – 2013 sebesar Rp 24,29 triliun atau naik 143,3 persen dibandingkan rata-rata realisasi penanaman modal subsektor tersebut tahun 2005 – 2009 sebesar Rp 9,98 triliun. Bidang usaha dominan di subsektor industri mineral logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik secara total kumulatif adalah Industri Logam Dasar Besi dan Baja – KBLI 2410 dengan share sebesar 34,4 persen terhadap total subsektor industri logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik. Adapun untuk PMDN dan PMA, bidang usaha yang dominan sama diatas, dengan share masing-masing sebesar 47,8 persen untuk PMDN dan 30,7 persen untuk PMA. Bidang usaha ini mencakup kegiatan tungku pembakar, steel converter, pabrik penggulungan dan finishing; produksi besi kasar dalam bentuk dasar seperti balok; produk besi campuran; produksi produk besi yang direduksi langsung dari bijih besi dan produk besi berongga lainnya; produksi besi dari hasil pemurnian dengan proses elektrolisis dan proses kimia lainnya; produksi butir besi dan bubuk besi; produksi baja batangan (ingot) atau bentuk dasar lainnya; peleburan kembali ingot sisaan besi atau baja; produksi baja setengah jadi; industri baja gulungan (panas, dingin atau flat); industri baja balok atau potongan gulungan panas; industri baja open section gulungan panas; industri baja balok dan baja solid section hasil proses cold drawing, grinding, dan turning; industri baja open section hasil pembentukan dingin progresif pada pmesin penggulung atau pelipatan pada mesin pres atau pada penggulungan flat baja; industri kawat baja hasil cold drawing atau stretchuing; industri lembaran tiang pancang baja atau baja las open section; industri material rel kereta api baja (rel belum terpasang); industri tabung, pipa dan profile berongga baja tanpa kelim hasil pembentukan gulungan panas, hot drawing atau hot extruding, gulungan dingin atau cold drawing; industri tabung dan pipa baja las hasil pengelasan dan pembentukan panas atau dingin, sebagai proses lanjutan dari gulungan dingin atau cold drawing; industri fittings pipa baja, seperti flat flanges dan flanges with forged collar, butt-welded fittings dan socket-welded fittings. Bidang usaha subsektor ini terdiri dari industri besi dan baja dasar (iron and steel making); industri penggilingan baja (steel rolling); industri pipa dan sambungan pipa dari baja dan besi. Bidang usaha dominan lain di subsektor industri mineral non logam yakni Industri Tabung Elektron dan Konektor Elektronik – KBLI 2611 dengan share sebesar 8,6 persen, Industri Logam Dasar Mulia dan Logam Dasar Bukan Besi Lainnya – KBLI 2420 dengan share sebesar 7,9 persen, serta Industri Penempaan, Pengepresan, Pencetakan, dan Pembentukan Logam, Metalurgi Bubuk – KBLI 2591 dengan share sebesar 5,1 persen. Keempat bidang usaha diatas berkontribusi sekitar 56,1 persen realisasi investasi di subsektor industri logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik pada kurun tersebut.

Rata-rata penyerapan tenaga kerja periode tahun 2011–2014 yang dikontribusi oleh subsektor industri ini sebesar 32.608 orang. Pada periode 2004 – 2013 rata-rata nilai ekspor-impor industri tersebut mencatat minus USD 16,78 juta.

Industri logam dasar merupakan induk dari industri manufaktur. Indonesia memiliki kandungan mineral logam yang sangat besar. Penerapan UU No. 4 Tahun 2009 mengenai larangan ekspor mineral mentah dapat memberi nilai tambah industri dalam negeri dan meningkatkan peluang investasi industri pemurnian logam (smelter) di Indonesia.

 

Sumber: http://manufakturbkpm.blogspot.co.id