Lingkup Industri Manufaktur

Sektor industri pengolahan yang biasa disebut sebagai industri manufaktur telah menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Industri pengolahan atau industri manufaktur masih memberikan kontribusi paling besar bagi aktivitas perekonomian domestik. Kontribusi industri manufaktur dalam perekonomian menjadi perhatian yang cukup serius mengingat industri manufaktur merupakan industri yang memberikan nilai tambah terbesar bagi perekonomian karena melibatkan rantai produksi yang paling panjang dari hulu sampai ke hilir. Selama hampir 5 (lima) tahun ini industri manufaktur memperlihatkan kinerja pertumbuhan yang cukup membanggakan dengan kontribusi yang sangat signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), terhadap perolehan devisa dari ekspor, dan penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat melalui kegiatan investasi di sektor industri manufaktur yang terus meningkat. Konstribusi sektor industri manufaktur terhadap pembentukan PDB pada periode Januari-September 2014 mencapai 20,65% yang merupakan sumbangan tertinggi dibandingkan dengan sektor-sektor ekonomi lainnya. Demikian juga dilihat dari kontribusinya terhadap perolehan devisa negara dari kegiatan ekspor, sektor industri pengolahan non migas ini selalu menjadi kontributor terbesar. Dalam periode yang sama sektor ini memberikan kontribusi perolehan devisa ekspor sebesar USD87,85 miliar atau 66,20% terhadap total nilai ekspor nasional.

Dalam rangka penyeragaman pencatatan seluruh kegiatan ekonomi di Indonesia, Pemerintah menggunakan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) sebagai acuan pencatatan administratif data statistik menurut kegiatan ekonomi nasional. KBLI merupakan klasifikasi pengelompokan setiap kegiatan ekonomi di Indonesia melalui penyeragaman konsep, definisi, dan klasifikasi lapangan usaha yang mengacu pada International Standard Industrial Classification of All Economic Activities (ISIC) United Nations serta dinamika perkembangan usaha domestik terkini. KBLI disusun untuk menyediakan satu set kerangka klasifikasi kegiatan ekonomi yang komprehensif di Indonesia agar dapat digunakan untuk penyeragaman pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisis data statistik menurut kegiatan ekonomi, serta pengambilan keputusan, dan perencanaan kebijakan, yang merefleksikan fenomena kegiatan perekonomian terkini. Dengan penyeragaman tersebut, data statistik kegiatan ekonomi dapat diolah, dianalisis dan dibandingkan dengan format yang standar pada tingkat internasional, nasional, maupun regional.

Dalam penyelenggaraan kegiatan usaha dalam rangka penanaman modal di Indonesia, Pemerintah mengatur melalui Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nomor 57 Tahun 2009 tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia, yang merupakan revisi tahun 2005, yang telah mengacu pada International Standard Industrial Classification of All Economic Activities (ISIC) United Nations, Revisi 4 Tahun 2008.

Ruang lingkup industri manufaktur dapat dimasukan dalam kategori sebagai berikut :

No. Sektor / Subsektor KBLI 2009
1. Industri Makanan Kategori C golongan pokok 10 – 12
2. Industri Tekstil Kategori C golongan pokok 13 – 14
3. Industri Kulit, Barang dari kulit   dan Alas kaki Kategori C golongan pokok 15
4. Industri Kayu Kategori C golongan pokok 16
5. Industri Kertas, Barang dari kertas, dan Percetakan Kategori C golongan pokok 17 – 18; Kategori J golongan pokok 58 meliputi subgolongan 5811 – 5813
6. Industri Kimia Dasar, Barang Kimia, dan Farmasi Kategori C golongan pokok 19 – 21
7. Industri Karet, Barang dari Karet, dan Plastik Kategori C golongan pokok 22
8. Industri Mineral Non Logam Kategori C golongan pokok 23
9. Industri Logam Dasar, Barang Logam, Mesin dan Elektronik Kategori C golongan pokok 24 – 26* golongan 261 – 264; golongan pokok 27** golongan 271 – 275, 279; golongan pokok 28*** golongan 281 – 282.

*) meliputi subgolongan 2611, 2612, 2621, 2622, 2631, 2632, 2639, 2641, 2642, 2649

**) meliputi subgolongan 2711, 2712, 2720, 2731, 2732, 2733, 2740, 2751, 2752, 2753, 2790

***) meliputi subgolongan 2811 – 2819, 2821 – 2826, 2829

10. Industri Instrumen Kedokteran,   Presisi, Optik, dan Jam Kategori C golongan pokok 26 golongan 265 – 268*

*) meliputi subgolongan 2651, 2652, 2660, 2671, 2679, 2680

11. Industri Alat Angkutan dan Transportasi Lainnya Kategori C golongan pokok 29 – 30
12. Industri Lainnya Kategori C golongan pokok 31 – 32; dan kategori E golongan pokok 37 – 38

Sumber : http://manufakturbkpm.blogspot.co.id